Penyair Bejo dan Tukang Cerita

Posted on April 27, 2013

0


Dimuat di Suara Merdeka 08 Februari, 2010.

TAK lama setelah matinya si tukang cerita, banyak kertas-kertas ditemukan. Salah satunya adalah kertas lusuh yang tergeletak di atas meja Bejo. Kertas itu penuh dengan tinta biru dan tulisan tangan yang konon disinyalir adalah tulisan tangan Bejo. Polisi yang menyangka Bejo adalah pembunuhnya, berusaha mencari bukti-bukti dan mengaitkan cerita-cerita. Adapun isi kertas yang ditulis oleh Bejo adalah begini:
Aku dengar orang-orang tertawa. Pertama-tama, tawa mereka tidak begitu nyata seakan speaker yang mengeluarkan suara, namun lebih seperti gema. Gema yang dipisahkan oleh jarak, tertutup oleh gunung-gunung dan dikacaukan angin. Makin lama, gema itu makin terasa, dan dengungannya menganggu kepala. Getarannya pun mulai mebuatku cemas. Makin lama makin mendekat hingga suatu waktu: aku merasakannya bergetar di kepalaku.
Aku mencoba menerka-nerka: apakah itu yang begitu lucu? Anehnya, mereka semua tertawa. Tidak seorang pun yang diam atau memasang mimik lain, kecuali diriku. Aku mungkin tidak begitu peka, atau tidak sadar. Atau mungkin mereka menertawai aku. Mungkin.
Aku tidak suka orang-orang, juga tawa mereka. Mereka begitu mengganggu. Tapi selama ini, kubiarkan saja orang-orang itu. Kubiarkan mereka tertawa. Aku hanya berpikir lihat saja nantinya; siapa yang akan tertawa pada akhirnya. Maka teruslah aku menjalani hidup. Banyak berpikir tentang diriku sendiri. Membiarkan orang-orang tertawa dan membenci mereka. Aku begitu sinis dan membenci banyak orang, bahkan orang yang tidak kukenal dan kutemui secara acak di jalan atau di kota. Jika aku melihat  mereka secara tak sengaja dan aku tidak suka (selalu ada yang tidak kusuka, selalu ada yang bisa kukritik), maka aku bergumam, dengan sedikit sumpah serapah. Kadang dalam hati, kadang kuucapkan perlahan. Jika mereka mencoba berbicara denganku, jawabanku selalu ironis dan meghina mereka. Aku bahkan sangat kreatif dalam menyusun kata-kata cemoohan. Jika sesuatu berjalan tidak seperti yang kumau, mulailah aku marah-marah dan memasang muka benci. Ya, seperti itu. Aku begitu marah karena kuhabiskan hidupku dengan sia-sia. Apa yang kulakukan setiap hari; apakah itu benar dan memang patut dilakukan? Aku selalu ragu. Kurasa aku tersesat. Dan jika aku tanya pada diriku sebelum tidur tentang apa yang harus kulakukan keesokan harinya, aku sering tidak tahu. Maka aku marah-marah.
Aku gemar menulis puisi. Dan jika kubaca puisi-puisiku, kebanyakan dari mereka berbicara tentang kesedihan. Di dalam puisi-puisi itu, sang narator membenci hidup dan dunia. Perjalanan hidup adalah hasil jebakan acak yang harus dijalani meski semuanya tidak pasti dan banyak hal membuatnya terjatuh berlutut. Tapi aku dengan sangat yakin dapat mengatakan bahwa puisi-pusiku adalah cerminan kehidupan. Puisi-puisi itu nyata, sedih, dan aku juga. Itulah masa muda, pikirku, penuh dengan penolakan. Hingga akhirnya masuklah aku pada tahap selanjutnya yaitu depresi dan akhirnya menerima kenyataan. Pada akhirnya ketika aku mulai beranjak dewasa, hidup terasa tidak begitu buruk. Paling tidak, sedikit lebih baik. Namun aku tetap marah-marah.
Aku memang sering marah-marah. Jika orang lain berbuat sesuatu tidak logis atau melakukan sesuatu tidak seperti yang kumaui, maka marahlah aku. Dan akhirnya, orang itu memanggilku ‘’bangsat’’ atau semacamnya. Aku tidak protes dan menerimanya, lalu kupanggil ‘’bangsat’’ juga orang tersebut. Secara sedehana, mungkin benar orang-orang itu. Aku memang ‘’bangsat’’. Tersesat. Dan terlalu tergila-gila dengan diriku sendiri.
Begitulah yang ditulis oleh Bejo.

***

TAK lama setelah matinya si tukang cerita, banyak kertas-kertas ditemukan. Salah-satunya adalah setumpuk kertas yang tergeletak di atas meja di ruang kerja si tukang cerita. Kertas-kertas itu tidak semuanya terisi; hanya beberapa lembar saja yang berisi tulisan tangan si tukang cerita. Seorang laki-laki pegawai dari sebuah penerbit yang biasanya menerbitkan cerita si tukang cerita, datang ke rumah tukang cerita yang tak lagi berpenghuni (konon ia tinggal sendirian sebelum ia mati) dan berusaha mencari naskah-naskah yang mungkin saja sempat ditulis oleh si tukang cerita sebelum ia mati. Ia hanya menemukan setumpuk kertas yang saya sebutkan tadi. Sebuah cerita ganjil yang sepertinya tidak selesai. Beginilah yang ditulis si tukang cerita:
Dulu Bejo adalah orang yang sabar. Apa yang ia mau, ia sering tidak sadar. Ia hanya menjalani hidupnya dengan ringan, apa adanya. Bejo selalu menurut dan berjalan sesuai arus. Jika orang lain menasihatinya, ia selalu menurut. Sebagai contoh, neneknya pernah menasihatinya untuk tidak merokok. Bejo menurut. Ia berhenti merokok. Begitu juga jika orang lain tidak peduli tentang dirinya, ia tak pernah menuntut. Namun setelah masa remajanya berlalu, Bejo berubah. Ia sadar banyak hal. Terutama setelah buku kumpulan puisinya terbit, ia menjadi seorang yang egois dan selalu marah-marah. Dulu sebagai anak kecil, ia tidak pernah cemas dan selalu tersenyum. Namun semenjak beberapa tahun lalu, semua senyumnya itu hilang seakan tak pernah ada. Rambutnya selalu acak-acakan dan mukanya selalu cemberut dan kecut.
Kupikir hal ini mungkin juga disebabkan lantaran ia belajar filsafat yang radikal tanpa bimbingan. Ia baca buku-buku itu sendiri, dan setelah membacanya, makinlah ia tersesat dan marah-marahnya semakin besar. Bejo mulai bertanya-tanya tentang eksistensi dirinya dan arti hidup. Beberapa filsuf memberi jawaban tentang hal itu, namun ia tak puas. Maka semakin marah-marahlah ia. Dan mulailah Bejo berusaha mencari-cari jawabannya sendiri. Ia berusaha mengisi hidupnya dengan hal terbaik yang bisa ia lakukan dan memberi hidupnya sesuatu yang ia percaya sebagai ìartiî. Namun dalam pelaksannanya ia selalu ragu dan tak yakin tentang apa yang ia lakukan. Ia tak yakin apakah hal itu benar-benar pantas dan hal terbenar yang ia lakukan, atau ia telah menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Keraguannya menjadi semakin kronis. Bejo merasa dirinya tersesat. Maka pada suatu malam ia marah besar. Setelah marah besarnya itu, Bejo menjadi orang yang semakin marah.
Tak lama kemudian, kudengar Bejo pindah ke Eropa. Ke sebuah kota bernama Anger di Perancis. Kepindahannya konon juga suatu misi dalam pencarian arti hidupnya. Setelah tinggal di Perancis selama beberapa bulan, Bejo benar-benar frustasi. Ia tak bisa menulis puisi. Otaknya buntu. Kata-kata yang ia percaya ada di dalam dirinya, tak lagi mau keluar. Ia begitu sedih dan tidak tahu mengapa otaknya begitu buntu. Ketika masih tinggal di Indonesia, Bejo tidak pernah mengalami masalah ini. Lantaran amarah dan kecemasannya Bejo dapat menulis dengan lancar. Ia begitu kecewa lantaran misi kepindahannya, yang seperti kukatakan sebelumnya, adalah untuk mencari arti hidup, malah menjadi sebuah momen yang kosong baginya. Bejo menjadi semakin khawatir. Ia merasa menghabiskan waktunya dengan sia-sia dan amarahnya semakin menumpuk.
Di Perancis, Bejo seringkali kesal lantaran banyak orang tak mau berbicara bahasa Inggris. Ia tak begitu mengerti bahasa Perancis dan mau tak mau ia harus belajar bahasa Perancis. Maka Bejo mendaftarkan diri di sekolah bahasa bersama para imigran lain. Di dalam kelas, Bejo sering marah-marah dan menggerutu. Kadang amarahya membuat mukanya merah padam. Ada saja yang tidak ia suka dari para imigran itu. Ia sering menggerutu bahwa pengajarannya begitu lambat lantaran beberapa orang baru belajar membaca dan menulis alfabet Latin. Kelasnya juga sering berisik, membuat Bejo yang lantaran banyak hal di kepalanya, sukar berkonsentrasi. Bejo tidak suka kelas itu dan ia mencap kelas itu sebagai taman kanak-kanak.
Untuk menyambung hidup, Bejo bekerja di sebuah restoran Asia. Bosnya adalah orang Vietnam. Bejo bekerja serabutan. Kadang ia melipat kulit lumpia, kadang ia memotong sayuran seperti paprika, bawang bombay dan wortel di ruang belakang, kadang ia juga mengepak makanan untuk pelanggan yang minta makanannya dibungkus dan kadang ia menjadi pelayan yang mengantar makanan. Bejo tidak banyak bicara dan sering memilih untuk diam (selain lantaran bahasa Prancisnya yang terbatas, ia juga berpikir terlalu banyak orang yang terlalu banyak bicara dan hal itu membuat dunia semakin kacau). Bosnya yang seringkali memperhatikan Bejo yang selalu cemberut, seringkali memintanya untuk selalu tersenyum, terutama jika mengantar makanan kepada pelanggan. Namun hal itu cukup sulit untuk Bejo yang suka marah-marah. Jadi sebagian besar waktu, tetaplah ia cemberut. Kadang jika perasaannya sedikit lebih baik, ia mencoba untuk menuruti bosnya dan tersenyum. Hasilnya, senyumnya terlihat terlalu dipaksakan. Jika orang melihat, mereka akan menerka-menerka apakah Bejo tersenyum atau meringis. Kadang beberapa pelanggan mengajaknya bicara. Mereka kebanyakan bertanya tentang dirinya, dari mana asalnya dan lain-lain semacam itu. Bejo seringkali kesal lantaran seringkali disangka orang Vietnam. Ia seringkali mengkoreksi mereka dan mengatakan bahwa ia adalah orang Indonesia. Bosnya memang orang Vietnam dan restoran itu juga menjual lumpia Vietnam, namun bukan berarti ia berasal dari Vietnam juga, pikirnya. Ia kesal mengapa orang-orang begitu asal-asalan menebak. Tak pernah ada satu pun dari mereka yang benar menebak dari mana asalnya. Hal itu tak hanya terjadi di restoran, namun juga di kota, di sekolah bahasanya dan juga di antara para kenalannya yang tak begitu dekat. Mereka selalu salah menebak. Bejo selalu disangka orang Vietnam, Thailand, China, atau Filipina. Tak ada seorang pun dari mereka yang benar menebak dan hal itu membuat Bejo begitu kesal. Apakah mereka tidak tahu Indonesia? Negara itu cukup besar, pikirnya.
Sebagai orang dari kota besar Jakarta, Bejo tidak suka pemikiran Orientalisme orang-orang Eropa yang ada di sekitarnya. Bejo tidak suka jika Asia, dirinya, negaranya, dalam gambaran di kepala orang-orang itu, digambarkan sebagai sesuatu yang tidak berbudaya dan terbelakang. Menurut Bejo, orang-orang barat, termasuk orang-orang Eropa di sekitarnya, selalu merasa lebih dari dirinya yang berasal dari timur. Mereka merasa kultur mereka lebih maju dan canggih dan orang-orang timur seperti Bejo adalah primitif dan terbelakang. Kadang mereka berpikir bahwa semua di timur itu kebanyakan miskin dan tidak berpendidikan, pikirnya. Hal itu seringkali dirasakan oleh Bejo. Dan sebagai orang Asia di Eropa, Bejo cukup sensitif tentang masalah ini. Beberapa kali Bejo melakukan kontak dengan orang orang Eropa di sekitarnya, dan semakinlah ia merasa benar tentang argumennya ini. Adapun itu membuat Bejo semakin marah. Contohnya suatu kali Bejo dan beberapa imigran lain di sekolah bahasanya harus diajar mengenai politik dan kehidupan bermasyarakat. Menurut Bejo, judul buku panduannya saja sudah begitu provokatif dengan menyebut kata-kata seperti ‘’untuk dunia ketiga’’ dan sebagainya. Isi bukunya tak kalah mengesalkan bagi Bejo. Bejo merasa diperlakukan seperti orang bodoh. Suatu kali, kelas di sekolahnya membahas tentang aturan di tempat kerja. Dan gurunya butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk menjelaskan hal-hal seperti: harap membaca aturan di tempat kerja yang ditempel di depan pintu, harap memperhatikan aturan keamanan dan kesehatan, harap memakai pakaian kerja demi keamanan, harap datang tidak telat dan memasukkan kartu identitas ke jam absen dan lain sebagainya yang Bejo sudah tahu lama semenjak ia bekerja di Indonesia. Lagi-lagi Bejo merasa waktunya terbuang sia-sia.
Ada lagi kejadian lain. Suatu waktu Bejo datang ke bank untuk mengambil uang. Ketika berada di loket, pegawai bank yang membantunya mengajaknya mengobrol. Pegawai bank itu bertanya dari mana asal Bejo. Bejo menjawab ia berasal dari Indonesia dan reaksi spontan pegawai Bank itu adalah ‘’Oh, Tarzan!’’ Bejo begitu marah. Ia segera mengambil uangnya dan marah-marah. Mengomel-ngomel dan misuh-misuh ke pegawai bank itu dengan bahasa Indonesia. Tentu saja pegawai bank yang tidak mengerti artinya itu bingung.
Tak lama kudengar kabar bahwa Bejo pulang ke Indonesia. Semenjak kembali dari Eropa, Bejo banyak mengurung diri di kamarnya dan hampir tidak pernah keluar rumah. Tiap malam tetangganya sering mendengar Bejo berteriak-teriak, kadang membentak-bentak. Ada saatnya teriakannya begitu kencang. Kadang-kadang juga terdengar seperti orang mengomel tanpa henti. Menurut para tetangganya, apa yang diteriakan dan diomelkan Bejo tidak begitu jelas lantaran jika ia berteriak, suaranya pecah, dan jika ia mengomel, suaranya terlalu pelan dan ucapannya terlalu cepat untuk bisa menangkap kata-kata yang diucapkannya. Hanya gema dan suara-suara tak jelas yang sampai ke para tetangganya. Beberapa orang dari tetangganya yang rumahnya dekat, dan tiap malam terganggu oleh teriakan Bejo, berusaha menangkap dan ingin tahu apa yang diomelkan Bejo. Kadang mereka berdiri di dekat pintu pagar samping rumahnya. Mereka tetap tidak menangkap sebuah kalimat pun, namun dua orang dari mereka percaya bahwa mereka mendengar kata ‘’bangsat’’ di sela-sela omelan Bejo.

***

ADAPUN si tukang cerita memiliki seorang anak perempuan bernama Tunik yang tinggal di kota Depok. Tunik yang begitu sedih dan tidak habis pikir tentang kematian tukang cerita yang begitu cepat dan tidak disangka-sangka, masih bingung dan mencoba berpikir tentang matinya si tukang cerita. Tukang cerita mati dengan pisau yang menancap di perut dan mayatnya tergeletak di pinggiran Danau Sunter. Polisi menangkap Bejo sebagai tersangka utama setelah kesaksian Tunik bahwa ayahnya mengirim pesan singkat di teleponnya beberapa saat sebelum ia mati, bahwa ia akan pergi ke tempat Bejo.
Bejo tidak menolak ketika polisi membawanya. Namun hingga sekarang ia tidak berbicara sepatah kata pun dan tidak menjawab ketika polisi bertanya apakah ia membunuh tukang cerita dan apa motifnya.
Menurut Tunik, Bejo adalah kenalan ayahnya. Mereka bertemu beberapa tahun lalu pada suatu malam di sebuah warung di Taman Ismail Marzuki. Tunik juga ada di situ malam itu. Ia ingat ayahnya dan beberapa teman lainnya memutuskan untuk duduk-duduk di warung setelah acara pembacaan puisi. Bejo dan tukang cerita tidak terlalu sering bertemu. Hanya dua tiga kali mungkin. Mereka juga bukan teman dekat.

Tunik terus berpikir. Ia membaca berulang-ulang pesan singkat terakhir dari ayahnya:
‘’Baru saja makan. Sekarang mau pergi ke rumah Bejo. Bejo penyair yang waktu itu kita bertemu di TIM. Masih ingat? Kata orang-orang ia sedang sedih. Tidak ada salahnya kubezuk dan kuajaknya tertawa.’’ (35)

Lambertiweg, November 2009
Untuk Patrick Schnegelberger

*Stefani Hid lahir di Surabaya, 12 Agustus 1985 adalah penulis novel, cerpen dan kolom. Novel-novelnya antara lain: Bukan Saya, Tapi Mereka Yang Gila (KataKita, 2004), Soulmate (KataKita, 2004) dan Cerita Dante (Grasindo, 2006). Kumpulan cerpennya Oz (Grasindo, 2008) terbit pada tahun 2008. Stefani Hid bermukim di Jerman.

Posted in: Work